berutu.dev
← Kembali ke Blog
Studi Kasus 2 mnt baca

Cara Saya Membangun Website Gereja dengan React, Go, dan AI Agents

Studi kasus teknis membangun website gereja nyata dengan workflow pengembangan berbantuan AI.

#React#Go#AI-assisted development#Portfolio

Membangun website HKBP bukan sekadar latihan coding. Proyek ini dikerjakan untuk kebutuhan komunitas nyata, sekaligus menjadi validasi workflow pengembangan berbantuan AI yang saya gunakan sehari-hari.

Konteks Proyek

Website ini saya bangun sebagai kontribusi pribadi untuk komunitas gereja. Tujuannya:

  • membuat informasi penting lebih mudah diakses
  • memusatkan pengumuman dan jadwal kegiatan
  • menyiapkan fondasi sistem yang rapi untuk pengembangan lanjutan

Dengan begitu, proyek ini bermanfaat sebagai kontribusi nonprofit sekaligus case study portfolio yang realistis.

Kenapa Menggunakan AI Agents

Sebagai solo engineer, kecepatan penting, tapi kualitas harus tetap terjaga. Saya memanfaatkan AI agents untuk memangkas pekerjaan repetitif, sambil tetap memastikan keputusan teknis dan review akhir dilakukan secara manual.

AI paling membantu untuk:

  1. Percepatan perencanaan
    Menyusun breakdown requirement, urutan implementasi, dan task list.
  2. Scaffolding UI
    Iterasi struktur komponen dan layout lebih cepat sebelum refinement.
  3. Boilerplate backend
    Membuat kerangka API dan baseline CRUD agar waktu implementasi lebih efisien.
  4. Dukungan debugging
    Triage issue lebih cepat dan validasi beberapa opsi solusi.

Pendekatan Delivery

Alur kerja saya di proyek ini:

  1. Menetapkan requirement dan scope MVP.
  2. Menyusun PRD dan milestone implementasi.
  3. Membangun slice frontend dan backend awal dengan bantuan AI.
  4. Review dan refactor untuk maintainability.
  5. Verifikasi perilaku sistem dan menyiapkan konfigurasi deployment.

Prinsip utamanya: AI mempercepat eksekusi, tetapi arah teknis tetap dikendalikan engineering judgment.

Tech Stack

  • Frontend: React + Tailwind CSS
  • Backend: Go (REST API)
  • Database: MySQL
  • File Storage: Cloudflare R2
  • Deployment: Docker + reverse proxy workflow

Hal yang Berjalan Baik

  • Iterasi struktur halaman dan komponen lebih cepat
  • Waktu untuk boilerplate frontend/backend berkurang
  • Momentum implementasi dan debugging lebih terjaga

Constraint dan Tradeoff

Output AI tetap harus diawasi ketat untuk:

  • konsistensi arsitektur
  • keterbacaan dan maintainability kode
  • aspek security dan data handling
  • kesiapan production

Singkatnya, AI menaikkan throughput, tapi tidak menggantikan akuntabilitas engineering.

Penutup

Proyek ini memperkuat pendekatan saya dalam membangun software production-focused dengan AI sebagai force multiplier. Di artikel lanjutan, saya akan bahas keputusan teknis detail untuk arsitektur, content workflow, dan deployment.